Kamis, 14 Mei 2015

Asal Usul Istilah Pedagang Kaki Lima

Muslimdaily.net – Menyebut pedagang kaki lima atau disingkat PKL / PK5, yang teringat dalam benak kita seringkali adalah seorang pedagang yang menjual dengan sebuah gerobak roda dua dan satu kayu penyangga. Lebih dari itu, kesan semrawut, tidak tertib, dan kesan kumuh seringkali menjadi stigma negatifnya.

Siapa sih sebenarnya Pedagang Kaki Lima itu? Setidaknya ada dua asal-usul atau versi darimana kemunculan istilah Pedagang Kaki Lima. Pertama, orang secara umum mengetahui Pedagang Kaki Lima dikarenakan oleh alasan pedagang yang dimaksud memiliki “kaki” (dalam pengertian konotatif) berjumlah lima. Asosiasi ini tentunya akan mengarah kepada para pedagang yang berjualan dengan mendorong gerobak beroda dua. Dengan demikian, pedagang itu dianggap menjadi pedagang berkaki lima. Dua kaki adalah kaki dalam makna sebenarnya si pedagang, tiga kaki lainnya diasosiasikan pada dua roda gerobak dan satu kayu penyangganya.

Pasar Tradisional Menjadi Pasar Pesona Budaya

Oleh : Satriya Nugraha, SP
Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI Dari
Provinsi Jawa Timur 2014-2019
Staf Konsultan Ekowisata, Pertanian dan Evaluasi Lahan

Undang Undang Dasar 1945 Pasal 32 mengamanatkan bahwa “negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Oleh karena itu, pemerintah, pemerintah Provinsi dan Kabupaten / Kota perlu melestarikan budaya lokal dalam upaya memajukan kebudayaan nasional. Salah satu contoh budaya lokal adalah pasar tradisional. Perlu diketahui, pasar tradisional merupakan salah satu wujud budaya lokal dan ekonomi rakyat yang dapat menjadi wahana efektif untuk melestarikan kebudayaan. Selama ini, kondisi pasar tradisional hampir memprihatinkan, dianggap kumuh dan kurang tertata dengan baik. Bahkan sebagian pemerintah daerah mengalihfungsikan pasar tradisional menjadi pasar modern.

Dompet Dhuafa Kembangkan Potensi Ekonomi Lokal

Makassar - Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan kembali memperkuat perekonomian masyarakat dengan memasarkan potensi-potensi lokal di kawasan tersebut melalui program Celebes Berdaya.

Celebes Berdaya dari segmen perekonomian mencakup delapan nilai pemberdayaan yang tersebar di sejumlah titik di Sulawesi Selatan. Tiga di antaranya yaitu program pemberdayaan bakso sehat, kacang mete dan kacang disko.“Tiap tahun Dompet Dhuafa terus berupaya menggali potensi-potensi lokal yang ada di seluruh Indonesia untuk dikembangkan dan dikreasikan sebagai program pemberdayaan masyarakat, termasuk di Sulawesi Selatan ini," ujar Pemimpin Cabang Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan Andriansyah seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Selasa (24/2).

Model Pengembangan Kelembagaan Ekonomi Lokal untuk Pemberdayaan Masyarakat Nelayan

Oleh: Dr. Titik Sumarti & Dr. Saharuddin

Tujuan jangka panjang adalah membangun kelembagaan ekonomi lokal, yang mampu menyederhanakan pengaruh berbagai kekuatan luar yang menekan sistem pengelolaan kawasan pesisir, secara berkelanjutan. Sedangkan target khusus yang dicapai adalah menjelaskan kompleksitas struktur sosial dan memformulasikan konsep penyederhanaan institusi untuk mendukung pembangunan pertanian kawasan pesisir dan perdesaan nelayan yang berbasis komunitas. Kompleksitas struktur sosial mencakup beragam intervensi yang menciptakan gejala semakin meluasnya ketimpangan sosial dan semakin menurunnya kualitas sumberdaya perairan. Sedangkan penyederhanaan mencakup upaya penyusunan konsep yang mengacu pada pengakuan mekanisme dan peningkatan kemampuan institusi lokal, sehingga intervensi dari organisasi “suprastruktur” dapat diefektifkan.

Taman Sains Diharapkan Dongkrak Ekonomi Lokal


Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia
Jumat, 08/05/2015 09:58 WIB


Bandung, CNN Indonesia -- Science Techno Park (STP) atau Taman Sains dan Teknologi yang diprakarsai pemerintah nyatanya tak hanya sekadar sebagai pusat penelitian dan teknologi saja. STP ingin dijadikan wadah tempat berkembangnya para UKM dan peningkatan kesejahteraan penduduk.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati mengatakan, sesuai himbauan pemerintah, pembangunan STP harus berada di kawasan yang banyak penduduknya.

"STP ini sangat diharapkan bisa gaet banyak sektor swasta dan UKM yang ingin berkembang. Tentu kami ingin STP sebagai sarana peningkatan ekonomi masyarakat," tutur Enny saat berbincang dengan CNN Indonesia di Convention Hall Universitas Telkom Bandung, Kamis (7/5).